Waktu menjelang malam, orang - orang yang melayat datang silih berganti. Entah siapa saja yang datang, aku tak bisa lagi mengingatnya. Rumah dan halamanku padat dengan orang - orang yang datang. Bergantian mereka memasuki mushollah tempat jenazah ayahku ditempatkan untuk membacakan surah yaasiin. Suara tangis tak henti - hentinya terdengar. Aku merasakan begitu banyak yang merasa kehilangan ayah. Ucapan belasungkawa dan do'a via sms maupun telepon terus berdatangan.
Malam semakin larut, orang - orang yang datang melayat sudah berpulangan. Yang tertinggal adalah keluarga besar ayah dan ibu. Mereka membantu mengurusi persiapan pemakaman ayah untuk Sabtu besok. Ayah akan dimakamkan Sabtu, 31 Maret 2012 pukul 10.00 WITA di pemakaman keluarga Jl. Sungai Manonda. Aku melihat bunga - bunga telah disiapkan, kain kafan, peralatan untuk memandikan ayah dan lain - lainnya. Aku hendak tidur, badanku benar - benar lelah. Mataku terasa perih karena air mata yang tidak henti - hentinya mengalir. Sebelum tidur, aku berwudhu menunaikan shalat Isya. Selesai shalat, aku menguatkan hatiku untuk melihat jenazah ayahku yang telah terbaring kaku. Melihat sosok itu, seakan rasanya tidak percaya. Namun inilah kenyataan, ayahku telah tiada. Ayahku telah pergi untuk selama - lamanya T__T aku membaca surah yaasiin di sisinya. Sekali lagi, aku ingin melihat wajah ayahku. Tante yang juga adik kandung ayah membuka kain yang menutupi wajah ayah. Betapa aku langsung menangis ketika melihat wajah itu tersenyum. Wajah ayah terlihat lebih tenang daripada yang aku lihat di rumah sakit siang tadi. Air mataku semakin mengalir deras. Seraya berkata dalam hati, " Papa, semoga Allah telah memperlihatkan tempatmu. Sehingga akhirnya engkau bisa tersenyum dan pergi dengan jiwa yang tenang. Aku berharap senyuman itu adalah senyuman bahagiamu atas tempat yang diberikan Allah kepadamu. Aku percaya, engkau sosok yang semasa hidup begitu baik dan dekat dengan Allah. Aku bisa melihat semuanya dari betapa banyaknya orang - orang yang datang dan tak henti - hentinya menangisi kepergianmu, seraya mengatakan kesan atas kebaikan - kebaikanmu. Semoga seluruh proses pemakamanmu esok hari bisa berjalan dengan lancar." Aku beranjak dari ruangan itu, berjalan menuju kamar ibu. Tampak ibu, kakak, dan adikku telah tertidur dengan lelap. Mereka pasti kelelahan, lelah fisik dan lelah batin. Sama seperti apa yang aku rasakan.
Aku berjalan menuju kamarku, merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Seorang diri, aku menatap langit - langit kamar sambil merenung. Banyak hal yang aku renungkan... Aku merenungi kepergian ayah yang begitu tiba - tiba, aku sama sekali tak sempat berbicara apa - apa padanya dan yang pada akhirnya membuat airmataku lagi - lagi jebol ketika aku menyadari masih begitu banyak kesalahan - kesalahan yang aku perbuat, entah itu yang ayah ketahui maupun tidak. Perasaan bersalah dan menyesal kadang tak mendengarkan dan mengikuti nasehat ayah. Aku sama sekali belum sempat meminta maaf padanya. Malam semakin larut, dengan ditemani saudara sepupuku aku akhirnya bisa tertidur.
***
Tiba - tiba aku terbangun,,, aku meraih handphoneku dan melihat waktu telah menunjukkan pukul 03.30 pagi. Lagi - lagi aku mendengar suara tangisan yang begitu keras di luar kamar. Mungkinkah itu adalah dua orang adik ayah yang baru tiba dari Bungku... Aku hendak melaksanakan shalat malam. Selesai shalat, aku menuju ke ruangan tempat jenazah ayahku. Ya, aku melihat keluarga ayah sedang menangis dengan histerisnya. Aku mendapati Ibu di kamar sedang menangis sambil memeluk selimut ayah. Aku menghampirinya, memeluknya, mencoba menenangkannya dan menyemangatinya. Namun tak bisa ditahan, air mataku juga turut berlinang.
Azhan Subuh telah berkumandang, selesai shalat subuh, aku mandi dan berganti pakaian. Aku melihat orang - orang tengah sibuk mempersiapkan proses pemakaman ayah. Mulai dari memandikan, mengafani, menshalatkan hingga mengantar beliau ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Kepalaku terasa sangat pusing, selesai sarapan, aku merebahkan diri di kamar. Mempersiapkan fisik dan mentalku untuk menghadapi proses pemakaman beberapa saat lagi. Tak lama kemudian, aku dipanggil oleh tanteku. Ada seorang teman yang datang. Aku pergi ke mushollah, ruangan itu sudah sesak dengan manusia yang datang ingin melihat ayah. Orang itu adalah Ustadza Fadlun. Wanita yang mengajariku tahsin Al Qur'an. Ia sempat berkenalan dengan ayah ketika menawarkan program bimbingan tahsin di kantor ayah. Lagi - lagi air mataku mengalir. Aku duduk di dekat jasad ayahku bersama dengan ibu dan juga nenek, ibu dari ayahku serta tante dan saudara sepupuku yang lainnya. Hingga waktunya, jasad ayahku akan diangkat untuk dimandikan di kamar ayah. Di tempat yang sudah ayah persiapkan ketika rumahku sedang dalam proses dilantai. Ayah menyiapkan tempat yang sudah dilubang untuk jalan keluarnya air. dan posisi lantai yang sengaja dibuat miring agar air tidak tergenang. Tempat yang sudah ayah pesankan, jika suatu hari nanti ia meninggal, maka orang - orang tak perlu lagi repot untuk mencarikan tempat memandikannya.
Selesai dimandikan, jazad ayah diangkat kembali ke mushollah, dan dikafani. Suara tangis histeris tak bisa dibendung oleh kami keluarga besar ayah yang ditinggalkan. Tiba saatnya untuk memberikan ciuman terakhir kepada almarhum ayahku. Aku menghapus air mataku lalu mencium kening ayahku, cukup lama. Ingin rasanya airmata ini jatuh, tapi aku mencoba menahannya. Setelah itu, wajah ayah ditutup dengan kapas dan kain kafan, dibungkus rapi dan tertutup sehingga tak ada sedikit pun lagi jasadnya yang terlihat. jasad ayahku terbalut dengan kain kafan. Jasad ayah akhirnya diangkat keluar rumah, isak tangis semakin keras terdengar. Aku yang menyaksikan semua itu rasanya tak mampu lagi untuk bergerak. Seluruh tulang dan tubuhku rasanya remuk, tak ada kekuatan untuk berjalan, sedang air mataku mengalir dengan derasnya sambil terus memanggil - manggil pelan kata "Papa"... Dengan dipapah kakak sepupuku, aku berjalan mengiringi jasad ayahku. Tak ada celah untuk berjalan, seluruh ruangan rumah sesak terisi dengan orang yang datang melayat. Sampai di depan pintu depan, jasad ayah diberhentikan, sambil mendengarkan kata - kata pelepasan, dan seraya dengan mengucapkan La ilaha ilallah,,,, Tangisan kami semakin mengeras. Jasad ayahku akhirnya dibawa menuju ke ambulans, dan akan dishalatkan di mesjid dekat rumahku.
Sepupuku membawa aku kembali ke mushollah, datang teman - teman yang mencoba menenangkan dan menghiburku. Aku ingin ke pemakaman ayah, aku ingin melihat ayahku untuk terakhir kalinya.... Aku disuruh untuk berhenti menangis dan menguatkan hati jika ingin berangkat ke pemakaman. Dengan diantar pamanku, aku pergi ke pemakaman tempat ayahku dimakamkan. Aku terlambat, jasad ayahku sudah dimasukkan ke dalam liang lahat. Aku mendapati orang - orang tengah menimbun kembali liang itu dengan tanah.
Kakak dan adikku yang tak mampu membendung air matanya menangis dengan histeris meratapi kuburan ayahku. Walaupun sesungguhnya hatiku juga rapuh, tapi aku mencoba untuk bersabar dan ikhlas melepaskan kepergian ayahku. Aku memeluk kedua saudaraku itu, mencoba menenangkannya. Selesai berdo'a, akhirnya kami dan semua yang melayat kembali rumah masing - masing.
Sepanjang perjalanan, aku pun berpikir, inilah awal untuk memulai kehidupan kembali tanpa ayah lagi. Ayahku telah pergi jauh dan tidak akan pernah kembali lagi. Hanya semangat dan pesan - pesan ayah yang akan selalu hidup bersama kami.
Selamat jalan ayah,,,,
Aku akan selalu merindukanmu,,,
dan mendo'akanmu.... :*
Palu, 31 Maret 2012..........
hiks T_T terharu bacanya sayang..
BalasHapussempat meneteskan air mata T_T
Hiks, makasih sygs.... :(
Hapus